MANUSIA DAN KEINDAHAN
Keindahan itu salah satu bagian yang diciptakan Tuhan di alam ini. Makhluk hidup terutama manusia sangat menyukai keindahan. Apapun bentuk keindahan yang ada di alam ini, pada umumnya manusia menyukainya. Keindahan tidak hanya berupa bentuk nyata seperti pemandangan, karya seni seperti lukisan, ukiran ataupun benda lainnya yang dapat ditangkap oleh mata dan dapat kita sentuh.
Tapi ada keindahan yang tidak dapat dilihat mata tetapi dapat dirasa oleh panca indera lainya, seperti keindahan alunan sebuah nada dalam musik, keindahan bentuk kata-kata yang tersusun dalam puisi yang dibacakan oleh seseorang, ataupun keindahan tingkahlaku manusia yang dapat kita rasakan melalui perasaan, dan keindahan-keindahan lainya.
Umumnya tiap individu manusia, menganggap bahwa keindahan itu haruslah yang menyenangkan dan membahagiakan, jadi sesuatu yang tidak menyenangkan baginya itu bukanlah sebuah keindahan. Karena balik ke pandangan umum, bahwa keindahan haruslah yang menyenangkan dan membahagiakan.
Tapi sebenarnya keindahan tidak terpaku pada konsep dasarnya yang harus menyenangkan dan membahagiakan, karena ketika kita mampu menempatkan diri didalam sebuah keadaan yang tidak menyenangkan, maka itu bisa menjadi sebuah keindahan. Dengan kata lain kemampuan menyikapi sebuah keadaan negatif menjadi positif dapat menciptakan sebuah keindahan.
Disini saya mencoba mengutarakan pandangan saya terhadap sebuah keindahan tidak berbentuk nyata, yaitu keindahan sikap dalam menyikapi sebuah kondisi/keadaan apapun.
Seperti kita ketahui pada umumnya ketika ada sebuah kondisi yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan ataupun tidak menyenangkan, maka sikap umum kita adalah dominan bersikap negatif terhadap kondisi tersebut. Hal ini menyebabkan keadaan yang tidak menyenangkan tersebut menjadi sebuah beban bagi diri kita, yang membuat kita menganggap hal itu adalah sebuah keburukan bukan sebuah keindahan.
Padahal jika kita mampu bijaksana dalam menilai dan menyikapi sebuah kondisi yang tidak menyenangkan, dan mencoba merubah keadaan itu menjadi sebuah hal yang positif, maka respon yang akan kita keluarkan akan positif dan membuat tingkahlaku kita menjadi positif yang akan membuat keindahan bagi orang lain dan lingkungan yang menerima atau menilainya.
Contohnya ketika kita berada dijalan, dan ada kendaraan lain yang menyenggol kendaraan kita, jika respon negatif yang kita berikan, maka kita akan marah-marah dan langsung membuat sikap arogan dan egois. Hal ini bisa menciptakan kondisi permusuhan dengan pihak yang menabrak. Padahal jika diawalnya kita mulai dengan sikap positif seperti memberi senyum dan meminta maaf duluan kepada orang yang menabrak meskipun dia yang salah maka umumnya orang tersebut akan merespon dengan sikap positif dan ini akan menciptakan kondisi yang lebih harmonis.
Karena jika kita coba menempatkan diri kita pada sisi positif kita bisa berpikirapakah kita yang salah karena tidak memberi tanda, atau tidak mendengar tanda yang diberikan pihak yang menabrak, atau kita bisa berpikir mungkin orang yang menabrak kita sedang tidak konsen, atau kendaraannya bermasalah atau sebab lainnya.
Dengan kata lain kita bisa coba menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Selain itu, setahu saya tidak ada satupun individu yang ingin bermasalah dan mempunyai masalah. Terkadang masalah itu muncul karena individu tidak mampu mengendalikan hati, pikiran dan ego dalam dirinya.
Begitu juga dengan kondisi lainnya yang kita alami, jika respon pertama adalah positif maka hal ini akan menghasilkan sesuatu yang positif, yang mana itu adalah sebuah keindahan dalam bersikap, bertingkahlaku di dalam kehidupan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar